News  

Iran Ambil Kendali Waktu, AS Desak Lanjutan Perundingan

Iran memiliki 'Kartu As' strategis, Selat Hormuz. Bagaimana nasib lintasan penting seperlima minyak global ini ke depannya? (Asghar Besharati/AP Photo/picture alliance)

POJOKTIMES.COM | Teheran – Situasi di Teluk Persia semakin kompleks. Meskipun jalur diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran masih terbuka, serta Presiden AS Donald Trump telah mengumumkan perpanjangan gencatan senjata pada pertengahan pekan ini, pembicaraan kedua negara tetap mengalami kebuntuan.

Hingga kini, belum ada jadwal baru untuk putaran negosiasi selanjutnya. Sejumlah pertemuan yang sempat direncanakan bahkan tertunda tanpa kejelasan.

Menurut kantor berita nasional Tasnim, Iran belum memiliki rencana untuk kembali berpartisipasi dalam pembicaraan damai dengan AS. Sebelumnya, media Amerika melaporkan bahwa negosiasi baru kemungkinan digelar pada Jumat (24/4).

Dalam putaran berikutnya, selain tuntutan utama Washington terkait penghentian program nuklir Iran, isu sensitif lain juga diperkirakan akan dibahas, termasuk masa depan penggunaan Selat Hormuz.

Pemerintah Iran pada Kamis (23/4) menyatakan telah menerima pembayaran biaya pelayaran melalui selat tersebut. “Biaya tol pertama telah disetorkan ke rekening Bank Sentral Iran,” ujar wakil ketua parlemen Iran, seperti dikutip Tasnim.

“Permainan Kesabaran Taktis”

Para analis menilai situasi saat ini lebih menyerupai pertarungan strategi, waktu, dan ketahanan, ketimbang konflik militer terbuka.

“Saat ini kedua pihak seperti berada dalam permainan kesabaran taktis,” kata Hanna Voß, pakar Timur Tengah dari Friedrich-Ebert-Stiftung.

Menurutnya, Iran bersikap sangat hati-hati dalam merespons kemungkinan negosiasi. Di Teheran, terdapat kekhawatiran bahwa tawaran dialog hanyalah taktik, sementara kesiapan militer tetap dipertahankan.

Pandangan serupa disampaikan analis politik Pauline Raabe dari lembaga Middle East Minds. Ia menilai, bagi Iran, taruhannya jauh lebih besar karena menyangkut wilayahnya sendiri.

Karena itu, Teheran memanfaatkan instrumen strategisnya secara hati-hati. Salah satu yang paling penting adalah Selat Hormuz, yang memberi Iran posisi tawar kuat.

Selat Hormuz sebagai “Kartu As”

Menurut Center for Strategic and International Studies (CSIS), kekuatan Iran tidak hanya terletak pada aspek militer, tetapi juga ekonomi. Letak geografisnya memungkinkan negara tersebut memberi tekanan terhadap perekonomian global melalui kendali atas jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Energi menjadi faktor kunci dalam konflik ini. Washington Institute menilai minyak dan gas memiliki dampak jangka panjang terhadap pasar regional dan global.

Voß menyebut Selat Hormuz sebagai instrumen yang relatif mudah digunakan. Bahkan ancaman penutupan saja sudah cukup memicu dampak ekonomi besar: perusahaan pelayaran mundur, asuransi ditarik, dan jalur laut terancam oleh drone serta ranjau.

“Secara taktis, Iran memegang kendali yang kuat, dan dari situlah keunggulan strategis muncul,” ujarnya.

Raabe menambahkan bahwa Iran kerap diremehkan, padahal negara itu masih mampu meluncurkan rudal secara rutin dan terus meningkatkan kapasitas militernya dalam beberapa tahun terakhir.

Dimensi Ideologis

Konflik ini tidak semata-mata bersifat militer. Washington Institute menggambarkan Iran sebagai aktor ideologis, bukan sekadar negara. Kesepakatan yang dibuat cenderung pragmatis, namun sikap dasarnya tidak berubah.

Di dalam negeri, pemerintah Iran dinilai mampu menuntut pengorbanan besar dari rakyatnya. “Tingkat ketahanan masyarakat Iran terhadap tekanan sudah terbentuk selama puluhan tahun,” kata Voß.

Raabe menyoroti bahwa tekanan dari luar justru dapat mempererat solidaritas masyarakat, meskipun tidak selalu berarti dukungan penuh terhadap pemerintah.

Sementara itu, tekanan domestik di AS justru meningkat seiring waktu. Dampak ekonomi seperti kenaikan harga energi dan ketidakpastian pasar mulai memengaruhi opini publik.

Dalam jangka pendek, kondisi ini justru memperkuat stabilitas internal Iran. “Konflik ini mendorong konsolidasi di dalam negeri,” tambah Voß.

Konsesi dan Imbalan

Dinamika diplomatik juga mulai bergeser. Media pan-Arab Al-Quds al-Arabi mencatat adanya tekanan yang meningkat terhadap Washington untuk meredakan konflik secara politik.

Di sisi lain, Iran tampil lebih percaya diri dan menuntut imbalan konkret atas setiap konsesi, seperti pelonggaran sanksi atau pencairan aset yang dibekukan.

Strategi ini juga diperkuat oleh pendekatan perang asimetris. Menurut CSIS, meskipun Iran mungkin mengalami kerugian militer, mereka tetap mampu memberi pengaruh melalui serangan siber, sabotase, dan tekanan ekonomi.

Washington Institute memproyeksikan beberapa kemungkinan hasil konflik. Salah satunya adalah “kekalahan tersembunyi” bagi AS, di mana gencatan senjata tercapai tetapi Iran tetap mempertahankan pengaruhnya.

Skenario lain adalah “kekalahan terbuka”, jika Iran mampu bertahan hingga tekanan terhadap AS menjadi terlalu besar.

Siapa Bertahan Lebih Lama?

Pada akhirnya, konflik ini mengerucut pada satu pertanyaan utama: siapa yang mampu bertahan lebih lama—secara ekonomi, politik, dan sosial?

Raabe menilai waktu saat ini cenderung tidak berpihak pada AS. Sementara itu, Voß menegaskan, “Waktu justru berada di pihak Iran.”

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman dan telah diadaptasi oleh Sorta Caroline.

Editor: Irawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!