‘Nek Penuh’ Sekujur Tubuhnya dan Kulitnya Melepuh Terkelupas Seperti Tercelur Air Panas (2)

  • Bagikan

Aku menunggu kabar dari Rudi, anak nek Penuh yang sakit kulit melepuh sekujur tubuhnya dari mulai muka hingga ke kaki.

Kemarin kusalamkan uang kepada pak Jaga suami nek Penuh. Suami isteri yang sudah tua renta itu, tak bisa lagi melaut. Sebagai nelayan yang menetap tinggal di pulau Bertam.

‘Ini untuk ongkos beli minyak naik boat besok ke Puskesmas Belakang Padang” ucapku.

Pak Jaga mengangguk, disaksikan anak bungsunya, Rudi yang sudah berkeluarga punya tiga anak.

Baca Juga : ‘Nenek Penuh’ sedang Sakit Kulitnya Melepuh Disekujur Tubuh (1)

Selama ini makan minum dan lain lain, kedua anaknya lelaki yang sudah berkeluarga itu yang menopangnya. Namun dua pekan yang lalu putra sulungnya Tata, meninggal dunia mendadak.

Seharusnya sudah dua bulan yang lalu nek Penuh harus kontrol ulang ke Puskesmas di Belakang Padang. Tak ada ongkos pak. Ujar Rudi, yang bekerja terkadang menjemur ikan bilis itu, untuk mensyarah hidupnya.

Foto : dok. Facebook Imbalo Batam

Hutang kesana kemari, hutang lama belum pun terbayar, emaknya nenek Penuh sepanjang hari mengerang. Dia tak bisa lagi tidur terlentang, kulit bagian belakang tubuhnya mengelupas, seperti tersiram air panas, macam berair.

Baca Juga : ‘Nek Penuh’ Kulitnya Melepuh Seperti Terkena Air Panas, Kini di Rumah Sakit Otorita Batam (3)

Seorang teman simpati hendak membantu biaya pengobatan nek Penuh. Transfer kemana pak Imbalo katanya setelah membaca postinganku.
Belum lama pak Aznan Taufiq yang tinggal di daerah Sukajadi Batam center itu menghubungiku. Syarifuddin ketua Lembaga Amil Zakat (LAZ) Batam menghubungiku pula.

‘Kita siapkan Ambulance Laut pak haji” katanya padaku.

LAZ Batam ini punya ferry khusus sebagai ambulance Laut.

“Kami berunding, kita tidak usah ke Puskesmas Belakang Padang lagi kalau hanya sekedar ambil rujukan” ujar Lelaki asal Sulawesi ini.

Dari Telaga Punggur ke Bertam dari Bertam mobil Ambulance stand by di Senggulung, kita evakuasi nek Penuh langsung ke RSUD.

Kalau pihak Puskesmas keberatan, soal biaya BPJS untuk rakyat miskin itu tak mau bayar kita bayar sendiri saja. ujar Syarifuddin tegas.

Suaraku parau hingga tak sanggup mengucapkan kalimat, aku terisak tersekat ditenggorokan, aku sungguh terharu, mengingat melihat kelap kelip mata nek Penuh menahan sakit.

Setelah kuhubungi pak Aznan Taufik, kalau nak bantu, nanti saja setelah nek Penuh sudah di rawat di rumah sakit. ujarku padanya. Lelaki seorang pengusaha pengembang ini mengerti setelah kujelaskan.

“Pak haji ikut ya” ajak Syarif lagi.

Duduk manis dalam ferry ambulance saja katanya. Dia tahu emosiku tak stabil.

Tensiku masih lumayan tinggi 190/130. Namun begitu kuiyakan saja ajakan mereka.
Tiba di dermaga KPLP Telaga Punggur, minyak pula harus dibeli. SPBU paling dekat tak jauh dari tempat pembuangan akhir sampah. Tak mungkin pula kapal ambulance laut itu dibawa ke sana, sementara pakai jerigen tak boleh mesti ada izin khusus.

Sedang kami kasak kusuk mencari minyak premium, ustadz Hakim dari Bertam menghubungi. Orang dari kelurahan sudah datang ke Bertam, mereka bilang ambulance laut dari puskesmas akan segera datang. Jadi pak Imbalo sepertinya tak payah nak datang lagi ke Bertam. Mereka saja yang ngurus. kata Ustadz Hakim.

“Ya sudah kalau begitu, tapi mastiin mintak bicara sama orang kelurahan itu” ujarku.

“Iya pak kami dapat perintah langsung dari pak Camat tentang masaalah ini” ujar staf kelurahan yang bernama Andi itu sengaja datang dari pulau Kasu ke pulau Bertam.

Pak Camat entah dapat kabar dari mana soal nek Penuh ini. Ucapnya lagi.

Perut pun sudah lapar, kami makan di warung dekat laut dermaga KPLP Telaga Punggur. Masuk lagi telpon dari Andi, mengabarkan ambulance laut puskesmas Belakang Padang tidak ada ditempat. Sedang dipakai.

“Jadi ambulance laut pak Imbalo saja yang datang” katanya.

“Bukan pak Imbalo punya lah” kataku, Ambulance laut LAZ Batam.

Kami beli empat jirigen minyak kapasitas 30 liter dengan harga sekitar 300 ribu sejerigennya. Kami berangkat, menuju Bertam. Melalui Jembatan satu Barelang, Tanjung Uncang.

Kami bertemu dengan spead boat staf kelurahan itu yang didalamnya ada nek Penuh dan pak Jaga. Takut air surut jawabnya ketika kutanya kenapa nek Penuh disuruh berjalan.

Tak bisa kubayangkan pinggang nenek itu saja tersentuh sakit dan perih. Tertatih tatih ia melangka di gendong dari bot pancung ke kapal Ambulancu.

Sakit, sakit, sakit ucapnya berulang ulang saat diangkat ke tempat tidur yang tersedia di ambulance kapal itu.

Dia tak bisa telentang hanya miring ke kanan. Bagian tubuh belakangnya, lecet dan terkelupas. Ya Allah perihnya pikir.

Di pelabuhan Senggulung telah stand by Rudolf dengan mobil ambulance kami menuju Rumah Sakit Otorita Batam, disana sudah menunggu paramedis dari Puskesmas Belakang Padang. Tidak jadi ke RSUD.

Terima kasih kawan yang telah membantu perjalan kami, Terima kasih pak Camat Belakang Padang, Kelurahan Kasu. Puskesmas Belakang Padang, masyarakat di pelabuhan Senggulung.

Terima kasih khusus untuk LAZ Batam dan jajarannya. Yang telah memfasilitasi perjalan kami dari Punggur, Bertam, Senggulung ke RS OB, bersambung…..

Semoga Allah yang membalasnya.

Catatan : Imbalo Batam ( Artikel ini seperti di jejaring sosialnya )

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *