‘Nenek Penuh’ sedang Sakit Kulitnya Melepuh Disekujur Tubuh (1)

  • Bagikan

Pria itu hanya bercelana kolor saja, bila duduk terlihat pangkal pahanya, pusat serta perutnya terlihat bebas. Tak berbaju. Kulitnya coklat kehitaman khas kulit nelayan, di perairan tempat kami tinggal.

“Badannya rada berisi, namanya Rudi usianya belum genap 30 tahun. Sudah sejak beberapa jam yang lalu dia kesini” ujar Ustadz Beni Hariyadi.

Rudi tinggal di pulau Bertam, tetangga dengan Pulau Lingka.

Di pulau Bertam penduduknya lebih ramai ketimbang pulau Lingka. Disana ada sekolah SD negeri, ada masjid yang dipakai untuk sholat jumat bagi warga sekitran pulau pulau itu, termasuk warga muslim dari Pulau Lingka.

foto : facebook Imbalo Batam

Jadi duit masjid tu adalah nak dipinjam. kudengar bang Sutar berbual pelan dengan Rudi. Disini hanya surau, infaq wargapun tak banyak. Lagian nak dipinjamkan, harus lah nak runding dengan kengkawan lain. Pembicaraan Rudi dan Sutar jelas kudengar.

Ustadz Hakim ada di pulau Bertam, ustadz Syamsuddin ada di pulau Gara, ustadz Beni ada di Lingka. Ustadz Syamsuddin ini pula jadi penyuluh dari KUA dan guru agama di SD negeri pulau Bertam itu.

Itulah yang di perbincangkan kedua warga pulau yang bertetangga itu. Rudi risau hatinya, emaknya yang sudah tua, sakit tergeletak tak bisa bangkit. Ayahnya pula tak bisa lagi kelaut, Disamping sudah tua, menjaga ibunya yang terus mengerang kesakitan.

Atok nak ke Bertam pelawa Rudi. Rupanya dia sudah dapat pinjaman wuang dari ustadz Beni sebesar dua ratus ribu rupiah. Akupun mengangguk ikut ke pulau Bertam.

Sekitar seratus dua ratus meter, dari dermaga yang atapnya sudah berkarat itu sebelah kanannya terdapat rumah orang tua Rudi.

“Tengok dari situ saja tok, nanti atok jatuh” ujar Rudi yang sudah hafal mana lantai pelantar yang nak dipijak.

Rumah itu sudah sangat lapuk, pelantar dari dermaga beton ke rumah orang tua Rudi sudah tak nyambung lagi, papan kayu atasnya berlepasan, karena lapuk dan patah. Tonggaknya pun sebagian entah kemana.

Aku memaksa masuk, tak boleh sekali dua orang, perlahan aku melangkah sesuai arahan Rudi, tiba dibendul rumah itu yang jaraknya dari dermaga beton tak sampaipun lima meteran.

Sampai di dalam rumah, Rudi menjauh agak ke pojok, kusalami ayah Rudi, Sama dengan Rudi tadi waktu awal berjumpa, pak Jaga demikian namanya, kurus tua, kutanya umurnya dia pun tak tahu pasti, cucunya sudah remaja. Rudi menyahut mungkin dah tujuh puluh tahun tok.

Rudi sudah pakai baju pinjam baju pak Edi, tadi waktu sholat zduhur di Lingka. Terus dipakainya.
Lantai yang kupijak melentur, aku agak gamang, pak Jaga menghindar jauh. Rumah itu sekitar 4 x 4 meter, penuh dengan barang barang entah apa saja, Ada baldi tempat air, tunggku masak yang berserak, pakaian kotor tak terpakai. Seekor tikus kecil muncul di arah kaki nek Penuh isteri pak Jaga. Disela sela piring dan periuk kotor.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *