Dunia Dihantui Krisis Pangan, Petani dan Nelayan RI Aman Karena Ini

POJOKTIMES.COM | Jakarta – Pemerintah tengah menggarap proyek lumbung pangan alias food estate di sejumlah daerah di Indonesia. Petani dan nelayan yakin, food estate bisa menjadi solusi krisis pangan.

Saat ini dunia tengah menghadapi ancaman krisis pangan global yang salah satunya disebabkan oleh perang Rusia-Ukraina. Pasokan pangan dari dua negara eksportir tersebut terhambat karena perang. Alhasil, dunia terancam krisis pangan.

Indonesia dinilai bisa mengantisipasi hal tersebut. Serikat Tani Nelayan Indonesia yakin, program food estate bisa menjadi solusi atas ancaman tersebut.

“Untuk meningkatkan cadangan pangan nasional sekaligus kami yakini bahwa ini adalah solusi untuk mempersiapkan ketika situasi dunia memburuk,” kata Ketua DPP Serikat Tani Nelayan (STN) Muhammad Riza dalam keterangan tertulis, Minggu (20/11/2022).

Riza menambahkan, pasokan pangan Indonesia akan aman. Food estate yang dikerjakan di beberapa daerah seperti Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Nusa Tenggara Timur maka dapat dipastikan bakal memberikan dampak signifikan bagi pertumbuhan perekonomian.

Sebab, dengan peningkatan produktivitas pangan nantinya akan membuka peluang ekspor produk pangan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pangan di pasar dunia. Bagi Muhammad Riza, program food estate diyakini bakal membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Indonesia.

“Salah satu keberhasilan program food estate di Kabupaten Kapuas dan di Kabupaten Pulang Pisau saja mampu meningkatkan produktifitas pertanian padi tahun 2020 dari 76.530 Ton GKG menjadi 114.658 Ton GKG, ini menjadi salah satu keberhasilan program tersebut,” ujar Muhammad Riza.

Di sisi lain, ia menyayangkan pihak yang mengkritik dan menganggap food estate merupakan penggundulan hutan atau deforestasi. Jka dilihat lebih dalam, lanjutnya, program ini untuk menjawab tantangan gangguan suplay bahan pangan, penurunan permintaan produk pertanian, ancaman krisis pangan dan pembatasan dalam lapangan produksi yang dihadapi masyarakat.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!