‘Nek Penuh’ Penderita Alergi Kulit itu Mulai Berangsur Sembuh Setelah Dirawat di RS Otorita Batam (4)

  • Bagikan

Ingat Nek Penuh!!!???, Iya, wanita tua mungkin sekitar 70an tahun umurnya, maklum, suku laut, nelayan yang kini tinggal di Pulau Bertam Kecamatan Belakang Padang, Batam itu tak pandai tulis baca. Dia lahir diatas sampan dekat wilayah Senayang Lingga sana. Cucu dari anak lelakinya sudah remaja.

Senin lalu, nek Penuh, kami bawak ke Rumah Sakit Otorita Batam. Menggunakan Ambulance Laut, dari laut Bertam, menggunakan kapal mesin ganda (dua unit), Yamaha 50 PK milik LAZ Batam, bersama konsorsiumnya. Tiba di pelabuhan Senggulung, langsung estafet dengan Mobil Ambulance dari LAZ Batam juga. Terima kasih LAZ Batam atas bantuannya.

Ia, nenek Penuh namanya, semacam menderita Alergi kulit atau apa, seluruh kulit di tubuhnya mengelupas, tak terkecuali mukanya, seperti ular berganti kulit, dan belakang tubuhnya sudah mulai berair. Entahlah, macam tersiram air panas melepuh.
Sepanjang hari, erangannya tiada henti. Matanya hanya berkedap kedip sesekali, menahan rasa gatal, panas dan perih, disekujur tubuhnya yang terbalut kain, agar lalat dan serangga lain tak menyentuhnya.

Tadi siang aku menjenguk nenek Penuh, ke Rumah Sakit. Setelah ditanya macam macam, sesuai protokol kesehatan, aku diizinkan naik ke lantai 5 Ruang Teratai kamar no 16.

“Satu orang saja” kata petugas security yang bertugas disitu.

Menunggulah ustadz Syamsuddin dari Bertam Gara yang bersamaku di lantai bawah. Setelah kami berunding siapa yang duluan naik.

Seorang perawat menemaniku namanya Bukit, Nek Penuh kulihat diatas tempat tidur disampingnya ada pak Jaga duduk dengan sabar menjaganya, entah apa yang diceritakan mereka berdua.

Ditangannya ada selang infus, tangan yang sebelah lagi, tak henti henti jarinya menariki, kulit kering di muka dan bibirnya.

Mungkin gatal. Kularang ia menariki kulit mukanya yang mukai mengering itu.
Dilepasnya jarinya dari kulit yang mulai terkelupas dan kering itu, tak lama disentuhnya lagi. Begitula berulang ulang. Gatal kali agaknya.

Syukurlah kataku pada perawat lelaki itu, nek Penuh langsung di tangangi dokter spesialis kulit. Kubuka kain yang menutupi bahunya. Sudah mulai mengering seperti kulit bawang merah yang terkelupas.

“Nenek ini susah mandi disuruh mandi tak mau. Di pasang jarum infus malah dicabutnya” ujar perawat itu padaku.

“Meskipun di kelas tiga, pelayanan disini sama” ujar perawat itu padaku.

Termasuk makan dan lain lain katanya lagi.

Beberapa pasien komentar padaku “kami tak tau siapa nenek itu, ditanya diam saja, tetapi ada yang suka bantu beliin makanan dan menyapa ibu itu” kata mereka lagi.

“Kalau mau jelas, kita ke depan saja pak” Ujar perawat yang bernarga Bukit itu.

Kami menuju ruangan konsultasi atau apa, petugas disitu ada komputer didepan diatas mejanya.
Lagi lagi, keluhan soal malas mandi, dan si nenek yang gak nurut di pasangin jarum infus.

Nama dan nomor telponku dicatat oleh petugas disitu aku diminta ngasih tahu ke nenek itu dengan bahasa yang di mengertinya.

Kuminta juga ke petugas disitu komunikasi dengan nenek itu berulang ulang, dengan bahasa yang sangat sederhana.

Kulihat nek Penuh, meskipun kulit mukanya terkelupas, tetapi bersih, sorot matanya pun tak seperti hari senin kemarin.

Jari tangannya masih menggaruk dan mengelonteki kulit kulit kering di mukanya.

“Jangan di ditarik tarik lagi nek” Ujarku sambil menyingkirkan tangannya dari mukanya dan kusalami aku pulang.

Kubawa pak Jaga ke bawah mau cari pisang Nek Penuh katanya mau makan pisang.

Cepat sehat ya nek, ikut apa kata perawat, aku juga kawanin dia mandi kata pak Jaga. Rupanya dia mendengarkan terus cerita kami, bahwa isterinya malas mandi.

Terima kasih pihak Rumah Sakit, terima kasih para dokter, para medis lain. bersambung……

Semoga nek Penuh segera sembuh , dapat beraktifitas lagi, nangkap, nombak sotong ikan di laut.

Catatan : Imbalo Batam ( Artikel ini seperti di jejaring sosialnya )

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *