Nek Penuh, terus mengerang lirih, sekujur badannya ditutupi selimut, matanya saja kelap kelip mengarah ke pintu dapur, kepalanya arah pintu masuk. Jadi nek Penuh, melintang tidur antara pintu masuk dan pintu dapur, persis di pintu itu mereka masak.
Selimut nek Penuh disingkap pak Jaga, seluruh wajah, tangan dan badan nek Penuh, kulitnya melepuh terkelupas, seperti sisik ular berganti kulit. Entah penyakit apa iru, kata Rudi sejenis cacar air. Beberapa bulan yang lalu mereka ke Puskesmas di Belakang Padang. Cacar air yang mengandung air itu pecah dan membaik.
Pulang lah nek Penuh kerumahnya. Namun setelah itu sekujur tubuh nek Penuh, mengelupas kulitnya, itulah perih, dan nek Penuh mengerang terus. Terpaksa tubuh itu harus ditutupi kain menghindari nyamuk, lalat dan lainnya.
Semua aktifitas nek Penuh disitu, pak Jaga, tak bisa kemana mana. Dah dua bulan ini kami mau ke Puskesmas Belakang Padang, itulah tok, tak ade ongkos, nak pinjam tadi ke Lingka. Rudi, punya tiga anak, dua anak sambung.
Biasanya ada abang Rudi nama Tata. Yang bantu membantu belanja mak bapak mereka. 12 hari yang lalu bang Tata meninggal dunia. Otomatis tinggal Rudi lah yang jadi tulang punggung keluarga.
Nek Penuh terus mengerang entah apa yang yang diucapkannya, suaranya lirih nyaris tak terdengar pak Jaga yang mengerti apa katanya.
“Dari Bertam ke Belakang Padang, nanti nak dibawa lagi ke Embung Fatimah rumah sakit daerah di Batam, paling tidak nak pegang duitlah tok lima ratus ribu” ujar Rudi.
“Tadi malam aku dapat amplop dari panitia Musda MUI Provinsi Kepri, di Hotel Golden View, kubuka amplop itu sebesar satu juta rupiah, kuberikan pada pak Jaga suami nek Penuh, untuk ongkos ke Puskesmas” ujarku.
Kuberikan kain sarung pemberian mang Taba Iskandar, kupakaikan ke pak Jaga yang hanya bercelana kolor itu.
Semoga cepat sembuh ya nek ucapku. sepertinya nek Penuh tak bisa menggerakkan lehernya lagi. Terlalu lama terbaring kaku.
Aku melangkah ke luar perlahan menginjak papan lapuk yang ada tongkatnya dibawah.
Aku membayangkan bagaimana mengevakuasi nek Penuh besok dari rumahnya ke boat untuk dibawak ke Puskesmas Belakang Padang, dan dari situ pula di rujuk ke RS Embung Fatimah.
Ya Allah ucapku lirih. Sudah seperti itu prosedurnya pak Imbalo, yang punya BPJS. Jelas pak Kaprijal Mantri kesehatan di Puskesmas Rempang Cat.
Jadi teringat dengan Klinik Terapung LAZ Batam, bang Syarifuddin, perlengkapan dan peralatan di Boat itu ada tandu untuk dipakai evakuasi. Kuhubungi beliau telponku belum juga diangkat. kukirim beberapa poto nek Penuh, belum juga berbalas.
Aku pulang ke Lingka lagi, sisa uang diamplop Musda MUI tadi kuserahkan pada anak Yatim cucu nek Penuh yang baru meninggal dunia.
Hanya Allah saja tempat mengadu, tak tahu lagi tempat mengeluh. bersambung…….(*)
Catatan : Imbalo Batam ( Artikel ini seperti ditulis di jejaring sosialnya )
