53 SMP di Batam Dapat Rekomendasi Belajar Tatap Muka

  • Bagikan

Batam – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam mengeluarkan rekomendasi bagi puluhan SMP di Kota Batam untuk menggelar belajar tatap muka di sekolah pada tahap awal.
Adapun, yang mengantongi rekomendasi belajar tatap muka itu, terdiri dari 27 SMP swasta dan 26 SMP negeri.
“Di tahap pertama ini ada 53 SMP yang kita rekomendasikan belajar tatap muka,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kota Batam, Hendri Arulan, Selasa (2/3/2021) seperti yang diberitakan Harian Batam Pos.

Sementara pada tahap kedua, Disdik Batam kembali merekomendasikan 20 SMP sederajat untuk belajar tatap muka.
Terdiri dari 10 SMP swasta dan 10 SMP Negeri. Sebelum memberikan rekomendasi ini, lanjut Hendri, tim melakukan verifikasi sesuai dengan surat kesepakatan bersama (SKB) empat menteri, yakni memperoleh persetujuan dari kepala dan komite sekolah, ketersediaan sanitasi kebersihan, mampu mengakses fasilitas pelayanan kesehatan, tempat cuci tangan, disinfektan, penggunaan masker dan penyediaan alat pengukur suhu tubuh.
“Ada sejumlah verifikasi yang dilakukan sebelum memberikan rekomendasi,” ucapnya.

Sebelumnya, ada 80 sekolah mengajukan belajar tatap muka. Sebanyak 63 sekolah di antaranya sudah menjalani verifikasi.
Dan baru 53 sekolah yang mengantongi rekomendasi tahap pertama.
Di dalam Verifikasi melibatkan unsur dari Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Dewan Pendidikan dan Polsek setempat.
Ia mengatakan, pihaknya akan terus melakukan pengawasan, memastikan enam ceklis SKB 4 menteri dipatuhi dalam pelaksanaan belajar tatap muka.

Apabila diketahui ada anak didik atau pengajar yang tertular Covid-19, maka pihaknya akan menutup kembali kegiatan belajar tatap muka selama 14 hari. Anita, salah satu orangtua siswa mengaku sepakat agar anaknya belajar tatap muka.

Namun, penerapan protokol (prokes) kesehatan pencegahan Covid-19 selama siswa-siswi berada di sekolah tetap perlu diprioritaskan.
“Asal penerapan protokol kesehatan benar-benar diperhatikan oleh pihak sekolah, saya tidak masalah tatap muka,” ujar Anita.
Arianto, orangtua siswa lainnya, mengaku tak khawatir melepas anaknya ke sekolah asal aktivitas belajar tatap muka digelar dengan menerapkan protkes ketat seperti yang dianjurkan pemerintah.

Menurutnya, butuh adaptasi menerapkan belajar online yang selama ini dijalani. Sebab, pembelajaran secara daring dirasa belum maksimal.
“Pembelajaran daring pakai handphone, malah buat anak makin sering main game, bukannya belajar,” keluh Anita.

Orangtua lainnya, Gultom juga tak keberatan jika belajar tatap muka digelar.
Apalagi, anaknya sempat mengatakan ingin kembali belajar di sekolah.
“Katanya sudah enggak betah belajar di rumah, enggak ketemu guru dan teman-teman. Kalau lihat kondisi saat ini enggak masalah sebenarnya. Asal protkes tetap dijalankan,” ucap pria 43 tahun itu.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *