Pergantian Tahun Baru 2026 semestinya menjadi penanda harapan dan awal yang baru. Namun bagi sebagian masyarakat di Sumatera, tahun baru justru datang bersama duka dan kehilangan. Bencana yang melanda di penghujung tahun meninggalkan puing-puing rumah, infrastruktur yang rusak, serta ribuan warga yang harus mengawali tahun dalam kondisi darurat dan ketidakpastian.
Ironi ini kembali memperlihatkan jurang antara euforia perayaan dan realitas kemanusiaan. Di saat kembang api menghiasi langit kota-kota besar, banyak warga Sumatera justru berjuang memenuhi kebutuhan paling dasar: tempat tinggal, makanan, dan rasa aman. Pergantian tahun kali ini tidak sekadar soal waktu, tetapi tentang kepekaan nurani sebagai sebuah bangsa.
Bencana memang tidak selalu bisa dicegah, tetapi dampaknya dapat diminimalkan. Sayangnya, peristiwa di Sumatera kembali menyingkap persoalan lama yang belum tuntas dibenahi. Tata kelola lingkungan yang lemah, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, serta minimnya mitigasi dan kesiapsiagaan kerap memperparah dampak bencana. Alam sering kali dijadikan kambing hitam, sementara kesalahan kebijakan dan kelalaian manusia luput dari evaluasi serius.
Dalam konteks ini, negara memegang tanggung jawab utama. Kehadiran pemerintah tidak cukup diwujudkan melalui pernyataan empati atau kunjungan simbolik. Yang dibutuhkan adalah tindakan nyata dan terukur: percepatan distribusi bantuan, pemulihan hunian dan ekonomi warga terdampak, serta evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pembangunan dan perlindungan lingkungan. Tanpa perubahan mendasar, bencana akan terus menjadi siklus tahunan yang menelan korban baru.
Namun tanggung jawab tidak berhenti pada negara. Masyarakat juga diuji. Solidaritas sosial tidak boleh bersifat musiman atau berhenti pada simpati di media sosial. Gotong royong, kepedulian nyata, serta keberanian mengawal kebijakan publik adalah bagian dari tanggung jawab bersama. Sebab, bencana bukan hanya urusan korban, melainkan persoalan kemanusiaan yang menyentuh seluruh elemen bangsa.
POJOKTIMES.COM memandang bahwa Tahun Baru 2026 seharusnya menjadi momentum koreksi kolektif. Pergantian tahun di atas puing-puing Sumatera adalah pengingat bahwa pembangunan tanpa empati dan keberlanjutan hanya akan melahirkan kerentanan baru. Harapan tidak lahir dari perayaan semata, tetapi dari kesadaran untuk berubah dan memperbaiki.
Pergantian tahun akan selalu datang tepat waktu. Namun kepedulian sering kali tertinggal. Ketika Sumatera masih berjuang bangkit dari puing, pertanyaan yang tersisa adalah sederhana namun mendasar: apakah bangsa ini masih memiliki nurani, atau justru telah terbiasa menutup mata?












