Di masa kini yang didominasi oleh perangkat pintar, surat kabar cetak yang dulu jadi sumber informasi utama kini terlihat usang. Meski begitu, media lokal di Indonesia tetap aktif beradaptasi dari bentuk cetak ke platform digital agar tetap relevan. Perubahan ini melibatkan dinamika yang rumit dan strategi inovatif yang perlu dianalisis secara mendalam. Pada tahun 2010-an, penjualan surat kabar mengalami penurunan besar. Berdasarkan data Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), pendapatan iklan cetak turun hingga 70 persen sejak 2015 karena perpindahan pembaca ke media sosial seperti Facebook dan Instagram.
Media lokal seperti Pikiran Rakyat di Bandung dan Jawa Pos di Surabaya menghadapi masalah yang sama, seperti penurunan penjualan harian, pemutusan hubungan kerja, dan penggunaan mesin cetak yang berkurang. Untuk mengatasi ini, mereka mulai beralih ke platform online. Kompas.com, yang dulunya berupa surat kabar Kompas sejak tahun 1995, kini memiliki 50 juta pengunjung setiap bulannya. Sementara Tribunnews yang termasuk dalam kelompok Jawa Pos mengelola lebih dari 30 edisi daerah dan mencapai 100 juta halaman yang dilihat setiap bulannya, menurut data SimilarWeb 2025.
Kunci untuk berhasil beradaptasi adalah dengan menyesuaikan konten agar cocok untuk layar ponsel. Media lokal mulai beralih dari artikel yang panjang ke bentuk video pendek di TikTok, utas di X, dan cerita di Instagram. Pendekatan lokal sangat kuat, di mana berita yang berbasis wilayah digunakan dengan baik, seperti Pontianak Post yang menayangkan liputan langsung banjir di Kalimantan Barat melalui video dengan jutaan tayangan, atau Manado Post yang menggunakan filter realitas tertambah di Instagram untuk meliput festival budaya Minahasa, sehingga meningkatkan keterlibatan hingga 300 persen.
Kolaborasi dengan key opinion leader lokal juga efektif, sebagaimana dilakukan Radar Bogor melalui seri konten “Bretton Woods Hari Ini” yang menggabungkan jurnalisme dengan hiburan, meningkatkan pengikut Instagram hingga 500 ribu dalam satu tahun. Selain itu, model monetisasi seperti paywall premium ala Tempo.co dan podcast “Suara Jawa Timur” dari Jatim Times yang diakses 1 juta kali di Spotify turut memperkuat posisi mereka. Data Nielsen 2025 menegaskan bahwa 65 persen akses berita di Indonesia dilakukan melalui perangkat mobile, dengan media lokal mengusai 40 persen lalu lintas daring di tingkat regional.
Meskipun begitu, proses adaptasi jurnalis tidak bebas dari hambatan. Penyebaran berita palsu di media sosial membuat pekerjaan memverifikasi fakta jadi lebih sulit. Sementara itu, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) juga membuat jurnalis merasa waspada. Teknologi kecerdasan buatan seperti ChatGPT bahkan bisa menggantikan tugas wartawan pemula. Untuk menghadapi hal ini, AMSI mengadakan pelatihan literasi digital bagi ribuan jurnalis. Di sisi lain, Detik.com menggunakan AI untuk menganalisis data dengan bantuan editor manusia. Hasilnya, tingkat kepercayaan publik terhadap media meningkat 25 persen berdasarkan survei Reuters Institute tahun 2025.
Ke depan, media lokal mulai mencoba teknologi Web3 dan metaverse, seperti uji coba NFT untuk berita eksekutif serta rencana ruang berita virtual di dunia maya. Menurut data APJII 2025, ada sekitar 220 juta orang di Indonesia yang menggunakan internet, sehingga peluang pertumbuhan sangat besar. Secara umum, perpindahan dari surat kabar cetak ke platform digital menunjukkan bahwa kemampuan beradaptasi secara strategis menjadi dasar kelangsungan hidup media lokal, yang kini berkembang menjadi mitra informasi yang bisa dipercaya oleh masyarakat.
Penulis: Yazid Al Wahyu, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang












