News  

Hari Santri Nasional: LDII Sulsel Tekankan Pentingnya Santri Profesional Religius

Ketua LDII Sulawesi Selatan Asdar Mattiro, S.Sos., M.I.Kom

Lebih jauh ke belakang, Perang Diponegoro (1825–1830) yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, juga menjadi contoh nyata bagaimana santri dan ulama berperan dalam perlawanan terhadap kolonialisme. Pesantren menjadi pusat perjuangan, tempat berkumpulnya tokoh-tokoh perlawanan, bahkan menjadi lokasi penyimpanan senjata.

Santri diajarkan untuk mencintai tanah air sebagai bagian dari pengamalan ajaran Islam. Nilai-nilai ini telah menjadi fondasi dalam menjaga persatuan dan keutuhan bangsa sejak masa perjuangan hingga era kemerdekaan.

Di masa kini, peran santri terus dibutuhkan — bukan lagi dengan mengangkat senjata, melainkan melalui kontribusi nyata dalam pembangunan bangsa. Santri dituntut tidak hanya ahli dalam ilmu agama, tetapi juga menguasai berbagai disiplin ilmu untuk menjawab tantangan zaman.

Santri masa kini hadir di tengah masyarakat sebagai pemimpin, akademisi, profesional, wirausahawan, dan aktivis sosial yang membawa nilai-nilai Islam dalam kiprahnya. Kontribusi ini menunjukkan bahwa semangat perjuangan santri tidak pernah padam, melainkan terus berkembang seiring perkembangan zaman. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!