“Santri hari ini harus siap bersaing secara global, bukan hanya sebagai penjaga moral, tetapi juga sebagai inovator dan pemimpin masa depan. Mereka harus adaptif terhadap teknologi, melek informasi, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai luhur Islam,” ujar Asdar.
Ia juga menyoroti pentingnya pendidikan karakter di pesantren yang menjadi fondasi kokoh bagi pembentukan pribadi santri. “Santri yang profesional religius itu tidak cukup hanya menguasai ilmu, tapi juga harus berakhlak, mampu berpikir kritis, serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi,” lanjutnya.
Asdar menyampaikan bahwa LDII di Sulawesi Selatan terus melakukan pembinaan terhadap generasi muda, khususnya santri, agar mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. “Kami ingin santri tidak hanya sukses secara individu, tapi juga memberi manfaat luas untuk umat, bangsa, dan negara,” tegasnya.
Hari Santri Nasional 2025 menjadi pengingat bahwa peran santri tidak pernah selesai. Dari masa penjajahan hingga era digital saat ini, semangat santri tetap relevan: berjuang, mengabdi, dan membangun peradaban.
Mari jadikan Hari Santri sebagai momentum untuk memperkuat komitmen kebangsaan dan keislaman, serta mendorong lahirnya generasi santri yang tangguh, cerdas, dan siap memimpin Indonesia menuju peradaban dunia.
Santri memiliki peran historis yang sangat signifikan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mereka bukan hanya pelajar agama, tetapi juga pejuang yang mengangkat senjata melawan penjajah. Salah satu tonggak penting adalah Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945, yang menyerukan umat Islam untuk berjihad mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Seruan ini menjadi pemicu terjadinya Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, yang menjadi simbol heroisme bangsa.












