Penetapan hari jadi Batam yang bertitik tolak dari peristiwa pelimpahan wewenang kepada Raja Isa atau Nong Isa oleh Kerajaan Riau-Lingga tersebut harus terus kita ingat dan sosialisasikan, sehingga masyarakat Batam mengetahui sepenuhnya, mengapa hari jadi batam ditetapkan pada tanggal 18 desember.
“Sebagaimana kita ketahui bersama, dengan dilimpahkannya wewenang oleh Kerajaan Riau-Lingga kepada Raja Isa atau Nong Isa, kawasan ini terus berkembang, pemerintahan pun tertata, penduduk pun bertambah, pemukiman dan perkebunan juga meluas sehingga nongsa dan pulau batam sekitarnya kian ramai,” kata Rudi.
Semangatnya Raja Isa alias Nong Isa pada tahun 1831, Nongsa, termasuk pulau batam dan sekitarnya yang berada dalam wilayah Kerajaan Riau-Lingga, terus berkembang. Hingga tahun 1882, kawasan Kepulauan Batam telah terbentuk menjadi tiga bagian yang masing-masing memiliki pemerintahan terpisah yang disebut wakilschap sebagai wakil Kerajaan Riau-Lingga.
Kelak, tiga daerah wakilschap ini kemudian dilebur menjadi 2 wilayah yang dipimpin oleh seorang pribumi berpangkat amir yang berkedudukan di pulau buluh, dan seorang berpangkat kepala yang berkedudukan di Nongsa. Berdasarkan besluit kerajaan Riau-Lingga nomor 9 tanggal 1 oktober 1895, Raja Mahmud Bin Raja Yakub Bin Raja Isa menjabat wakil kerajaan berpangkat kepala berkedudukan di nongsa, serta Tengku Umar Bin Tengku Mahmud sebagai wakil kerajaan berpangkat amir dan berkedudukan di batam.
“Di masa kemerdekaan, Pulau Batam dan sekitarnya menjadi kecamatan dan pusat pemerintahannya berada di pulau buluh, lalu kemudian pindah ke Belakangpadang,” katanya.
Dalam perjalanan berikutnya, Batam kemudian terus mendapat sentuhan pembangunan, sehingga tumbuh dan berkembang menjadi sebuah kota tersohor di negeri ini. Sebuah kota industri, pariwisata dan alih kapal yang namanya harum semerbak ke seluruh pelosok negeri bahkan ke mancanegara.
“Banyak komponen dan elemen telah turut serta membangun Batam. Mulai dari Otorita Batam, Pemerintah Administratif Batam, sampai ke era Otonomi Daerah,” katanya.
Dijelaskan Rudi, mengingat sebuah momentum sejarah sebagai titik tolak penetapan Hari Jadi Batam, adalah sebuah tanggung-jawab bersama untuk membuat sejarah agar dikenang generasi yang akan datang.
“Kita harus menoreh bakti kepada kota kita tercinta agar dikenang generasi yang akan datang, sebagaimana kita mengenang torehan monumental dalam perjalanan masa lalu. Mengenang sejarah bagi generasi hari ini, sama pentingnya dengan menoreh bakti agar dikenang generasi mendatang,” katanya.
Rudi juga menjelaskan tema Batam Kota Baru pihaknya sinergikan potensi Pemko Batam dan BP Batam. Dengan semangat Batam Kota Baru, Rudi mengajak untuk mewujudkan Batam sebagai bandar atau kota terpenting di indonesia, bahkan di dunia.
Dalam konteks pembangunan di segala bidang, pemerintah dan masyarakat, khususnya pemerintah kota dan BP Batam, menjadikan Batam Kota Baru itu sebagai obsesi dan cita-cita kolektif serta kebanggaan bersama. Sampai saat ini, seperti yang sudah terlihat, pemerintah kota dan BP Batam telah memulai sinergitas “Batam Kota Baru” dengan membangun berbagai infrastruktur penting yang bermuara pada kesejahteraan masyarakat.
“Pelebaran jalan dan bundaran, pembangunan fly- over (laluan madani), rumah ibadah, fasilitas umum dan sebagainya,” katanya.
Pembangunan yang dimulai dari infrastruktur tujuannya tiada lain, yaitu agar batam semakin maju. Agar batam terdepan di tanah air. Agar batam dapat mengimbangi negara tetangga (Malaysia dan Singapura). Agar Batam sanggam, molek dan bedelau sebagai kota pariwisata sekaligus kota yang sanggam, molek dan bedelau juga bagi warganya.
Selaras dengan semangat dan cita- cita bersama serta tetap dalam sinergitas yang kompak dan kolektif, pemerintah kota dan BP Batam akan meneruskan pembangunan dengan mewujudkan rancana pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) kesehatan di Sekupang.
Juga pengembangan Pelabuhan Batu Ampar dan Bandara Hang Nadim dalam rangka menunjang sektor logistik. Termasuk pengembangan akses jalan untuk menopang mobilisasi barang maupun orang ke bandara hang nadim dan nongsa. Semuanya dilakukan berorientasi pada visi Batam sebagai bandar dunia madani yang modern dan sejahtera.
Pembangunan berkelas dunia yang selaras dengan perkembangan zaman, dan semuanya bermuara pada kesejahteraaan masyarakat.
Nong isa telah menorehkan sejarah dan kita patri sebagai hari jadi Batam.
“Kita generasi hari ini, mari bersama menorehkan sejarah untuk dikenang generasi di masa yang akan datang. Karya gemilang kita hari ini adalah warisan yang akan dikenang sebagai sejarah. Begitulah peradaban dibangun,” katanya.












